Soekarno, Malaysia, dan PKI
Sudah 42 tahun tragedi berdarah yang disebut peristiwa G30S/PKI itu berlangsung. Namun, apa yang terjadi pada malam naas tersebut masih merupakan misteri. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah apa hubungan Soekarno dengan PKI? Benarkah Soekarno mau menyerahkan Indonesia kepada PKI? Jawabannya tidak! Soekarno memerlukan PKI karena saat itu ia ingin mengganyang Malaysia. Namun, Soekarno sendiri tak mau membiarkan PKI naik ke panggung kekuasaan.
Seberapa jauh keterlibatan Soekarno dalam tragedi tersebut? Apa saja yang termuat dalam berbagai dokumen Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dan CIA yang baru saja dideklasifikasikan?
Satu hal yang kurang diperhatikan para sejarawan yang meneliti kedekatan Soekarno dan PKI adalah hubungan antara konfrontasi Malaysia dan kedekatan Soekarno dengan PKI.
Demonstrasi anti-Indonesia
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.
Howard Jones, Duta Besar AS saat itu, melaporkan kepada Washington bahwa ia bertemu Soekarno. “Saat itu Soekarno marah besar…. Tidak ada lagi pertukaran salam. Tak ada basa-basi…. Menjawab pertanyaan saya, apakah situasi sudah terkendali, Soekarno meledak dan mengutuk tindakan Tunku. “Sejak kapan seorang kepala negara pernah menginjak-injak lambang negara lain?” Soekarno juga menyebutkan fotonya yang dirobek dan diinjak-injak. “Rakyat Indonesia sudah murka! Ini Asia, tahun 1963. Saya juga amat beremosi! (telegram dari Kedubes AS di Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 19 September 1963)
Howard Jones menyatakan simpatinya, tetapi ia menekankan bahwa Indonesia tak bisa mengandalkan bantuan AS jika Soekarno ingin melakukan balas dendam. Sementara itu, TNI Angkatan Darat terpecah: Jenderal Ahmad Yani tidak bersedia mengerahkan pasukan untuk menyerbu Malaysia karena tidak merasa tentara Indonesia cukup siap menghadapi Malaysia yang dibelakangi Inggris. Namun, Jenderal AH Nasution setuju untuk mengganyang Malaysia karena ia khawatir isu Malaysia akan ditunggangi PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia.
Saat itu PKI merupakan pendukung terbesar gerakan mengganyang Malaysia, yang dianggap antek neokolonialisme dan imperialisme. Namun, pertimbangan PKI bukan didasarkan sekadar idealisme. PKI berusaha membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia dan menempatkan PKI sebagai gerakan nasionalis yang lebih nasionalis daripada tentara untuk memperkuat posisinya dalam percaturan politik di Indonesia, yang saat itu berpusat pada Soekarno, tentara, dan PKI.
Melihat dukungan tentara yang setengah-setengah, Soekarno kecewa, padahal ia ingin sekali mengganyang Malaysia. Sejak saat itulah, hubungan Soekarno dan PKI bertambah kuat, apalagi setelah tentara sendiri mengalami kegagalan dalam operasi gerilya di Malaysia. Penyebab kegagalan itu bukan karena tentara Indonesia tidak berkualitas, tetapi para pemimpin TNI Angkatan Darat di Jakarta tidak tertarik untuk mengeskalasi konfrontasi.
Kita harus memerhatikan secara saksama jalur pemikiran para pemimpin Angkatan Darat saat itu. Mereka menghadapi buah simalakama. Mereka tidak mau mengeskalasi konflik karena tidak tak yakin akan bisa menang menghadapi Inggris. Di sisi lain, jika mereka tak melakukan apa-apa, Soekarno akan mengamuk. Tak peduli keputusan apa yang diambil, PKI akan tetap untung.
Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara ke Kalimantan, tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia-Inggris (dan Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang. (JAC Mackie, 1971, hal 214)
Kekhawatiran Soekarno
Namun, pada saat yang sama, gagalnya konfrontasi juga berakibat buruk bagi para penentang PKI, seperti Partai Murba. Posisi PKI menguat, sampai 25 November 1964.
Kepada Washington, Howard Jones melaporkan, Adam Malik, Chaerul Saleh, Jenderal Nasution, Jenderal Sukendro, dan banyak lagi yang lain meminta Pemerintah AS membantu menyelamatkan kaum moderat di Indonesia dari posisi mereka yang amat sulit (akibat menguatnya posisi PKI)…. Sebagian tentara Indonesia merasa malu karena gagalnya usaha mengganyang Malaysia. (telegram dari Kedubes AS di Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 25 November 1964)
Sementara itu, secara internasional pun posisi PKI bertambah kuat dengan semakin dekatnya hubungan Indonesia dengan China-Beijing. Kedekatan ini disebabkan kesuksesan China dalam menguji bom nuklir dan dukungan Beijing kepada konfrontasi Malaysia. Di sisi lain, Soekarno merasa khawatir dengan PKI yang dianggap terlalu kuat. Namun, masalahnya, ia amat memerlukan PKI untuk mengganyang Malaysia, apalagi karena Indonesia sendiri sudah terkucil di lingkungan internasional akibat konfrontasi tersebut.
Kekhawatiran Soekarno terlihat dalam dokumen CIA yang baru dideklasifikasikan beberapa tahun lalu, bertanggalkan 13 Januari 1965. Dokumen itu menyebutkan, dalam sebuah percakapan santai dengan para pemimpin politik sayap kanan, Soekarno menyatakan tak bisa menoleransi gerakan anti-PKI karena ia butuh dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia. Ia menyatakan, namanya sudah “jatuh” di dunia internasional dan Indonesia dianggap negara gila karena keputusannya membawa Indonesia keluar dari PBB. Namun, Soekarno menekankan, suatu waktu, “giliran PKI akan tiba” dan saat itu gerakan menentang PKI sama dengan gerakan untuk menentang Soekarno. Soekarno berkata, “Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu.” Soekarno mengakhiri percakapan itu dengan berkata, “Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang.”
Dari sini terlihat, kedekatan Soekarno dengan PKI diakibatkan gagalnya TNI Angkatan Darat memenuhi keinginan Soekarno mengganyang Malayia. Soekarno di sini terlihat bukan sebagai antek atau pendukung PKI, tetapi ia memang berusaha menggunakan PKI untuk membantu kebijakannya dalam mengganyang Malaysia. Kegagalan para pemimpin TNI Angkatan Darat juga membuat tentara-tentara, seperti Brigadir Jenderal Suparjo kesal kepada para pimpinan Angkatan Darat. Mereka akhirnya merasa perlu melakukan operasi untuk mengadili para pemimpin TNI Angkatan Darat yang dianggap berkhianat kepada misi yang dibebankan Soekarno. Untuk melakukan hal ini, mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI karena dianggap memiliki misi yang sama, yakni mengganyang Malaysia. Hal ini akhirnya menyebabkan peristiwa yang sampai sekarang disebut sebagai G30S/PKI.
Yohanes Sulaiman Mahasiswa PhD Ilmu Politik Sekaligus Mengajar Hubungan Internasional di Ohio State University. Disertasi “Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soekarno dan Hubungannya dengan AS Tahun 1945-1967″
Sumber : Yohanes Sulaiman ( www2.kompas.com )



hancurkan malayshit!!!!
REOG
June 16, 2009
sekali bangsat ya bangsat!!!
malayshit bangsat!!!!
djoko
June 16, 2009
yes i do
cluth
June 11, 2009
Tolong ya baca semuanya dan bagi-bagi ke teman-teman PDI-P dan Gerindra atau ke pesaing-pesaing SBY-Boediono ya
KITA HARUS SELALU MEMBACA DI BALIK CERITA
Karena pembelaan kita semua mungkin, Prita akhirnya bebas. Tapi ini belum selesai, dan tak mungkin selesai kalau SBY jadi lagi. Kita harus berjuang terus; polisi dan jaksa itu harus dijebloskan ke penjara karena polisi itu dibayar RS Omni Internasional dan OI arogan meremehkan Prita yang berarti meremehkan kita semua masyarakat Indonesia. OI dan oknum aparat itu harus diminta bayar balik gantirugi material dan imaterial karena mencemarkan nama baik Prita yang dari curhatnya berusaha dan bermaksud mencari keadilan. Kalau itu terjadi baru keadilan benar-benar berdiri tegak dan IO tidak kurang ajar; tapi SBY selalu numpang disini. Biarlah. Makanya, kita harus selalu membaca di balik macam-macam cerita di negeri yang semakin hancur ini di bawah SBY. Tapi saya heran kenapa banyak orang akan pilih lagi SBY? Akhir-akhir ini diangkat kasus Ambalat. Mau tahu di balik cerita ini? Sebenarnya SBY harusnya sudah lengser. Dia sudah habis setelah muncul pasangan calon JKWin atau MegaPro. Itu maka SBY coba mencari keunggulan dengan membuat berbagai isu untuk menajdikan dirinya tetap populer dan kalau perlu menang lagi, itu sebenarnya. Dan dibuat juga isu Ambalat untuk juga membentuk opini publik seolah dirinya patriotis dan nasionalistis tegas dan berani berani menggertak Malaysia jadi seperti Sukarno dululah. Malaysia jelas menurut hukum laut dan UU lautnya mengatakan berhak atas Ambalat begitu juga Indonesia begitu kata Juwono Sudarsono dalam wawancara dengan Jakarta Post pada hari Senin 8 Juni 2009. Jadi boleh dong AL Malaysia mengelilingi Ambalat, dia juga berhak, pemerintah kita juga berhak. SBY sengaja membawa kasus ini ke hadapan publik agar rakyat panas. Sebenarnya untuk membuktikan apakah ini bukan sekadar seperti itu adalah apakah SBY berani meroket kapal Malaysia hingga mengakibatkan korban di pihak tentara Malaysia. Kalau tidak, itu namanya gertak sambal dan sekadar untuk membangkitkan emosi nasionalisme bahwa SBY pun seolah punya nasionalisme meskipun dia sesungguhnya neolib, baca editorial Jakarta Post hari Senin juga. Tetapi kalau AL TNI berani dengan satu roket saja maka pasti akan dibalas 20 roket Malaysia sebab Malaysia jauh lebih kuat militernya dan di antaranya akan nyasar ke istana Jakarta dan Cikeas. Tapi itu terlalu jauh. Yang benar adalah untuk mengeksploitasi opini publik rakyat kita yang faktanya kebanyakan berpendidikan rendah dan mudah dipanasi dengan nasionalisme arti sempit ini, untuk mendongkrak popularitas SBY-Boediono. Kita sudah tahu trik-trik beginian yang dulu dipakai juga bapak kita Suharto dan kini dilanjatkan SBY karena cukup efektif saat kebanyakan rakyat masih bodoh atau mudah terpesona dengan tipuan penampilan. Kalau kita lihat mata dan gerakan tangannya ketika berpidato tidak nampak ada kejujuran; Mega atau Prabowo atau JK jauh lebih jujur dan apa adanya. Trik lain SBY jelas adalah misalnya membayar LSI melalui Fox Indonesia yang didanai SBY dan sebuah organisasi Amerika untuk merekayasa bahwa popularitas SBY tetap tinggi dan bahkan mencapai 70 persen. Sebenarnya dia sudah selesai, karena dari pemerintahannya, Indonesia tidak kemana-mana dan tatanan kehidupan semakin hancur. Bayangkan definisi kebudayaan saja SBY tidak mengerti, dan mana mungkin dia juga mampu membentuk mentaliti disiplin makna kebudayaan sebuah bangsa? Zaman Suharto ada P4 dan Pancasila itu hasil kebudayaan bangsa ini untuk membentuk mentalitas dan disiplin bangsa ini. Bangsa Jerman, Amerika, dan juga bangsa-bangsa lain erbentuk mentalitas dan disiplin pribadi bangsanya, itu karena dibentuk oleh negara. Kita kemana? Maka karena tidak ada ukuran standar mentalitas dan disiplin bangsa ini dengan baik maka orang ebrmain sendiri-sendiri dan hidup sekadar berkorupsi, sementara pemimpin yaitu presiden tidak tahu berbuat apa walaupun bergelar doktor, pertanian lagi. Rakyat semakin terjepit dibuat sengsara olehnya. Kesenjangan mayoritas yang miskin dan sebagian yang kaya semakin dalam dan dalam. Rupiah dari periode Suharto Rp 2500 per 1 USD sekarang mencapai di atas Rp 10.000 per 1 USD. Pada periode Mega, rupiah masih lumayan Rp 8.000 per 1 USD. Lihat, RM Malaysia sangat bagus yaitu di anara RM3.000-an per 1USD. GDP membaik tetapi negara kita tidak dirancang GDP dinikmati oleh rakyat secara merata. Jadi saya bertanya apa nilai baiknya SBY? Hanya pidato-pidato biasa yang semua orang juga sudah tahu isinya begitu-begitu saja. Hari ini dia berpidato dalam peresmian universitas baru bahwa reformasi pendidikan harus dilanjutkan. Apa yang hebat? Semua orang bisa bicara seperti itu. Hari-hari sebelumnya mengklaim keberhasilan membuat perdamaian di Poso, Aceh dan yang lain, padahal yang membuat itu adalah Jusuf Kalla dan Maarti Ahtisari dari Swedia. Reformasi birokrasi tidak ada; sejak dahulu departemen-departemen dan kantor-kantor di negeri kita ada mafianya dan diisi oleh anak-anak pegawai disana secara turn-temurun; lulusan-lulusan yang tidak punya koneksi dari dalam atau tidak menyuap sulit diterima. Lihat untuk masuk BI, untuk masuk TNI, untuk masuk kepolisian, untuk masuk manapun, harus seperti itu; pertanyaan kita apakah SBY melakukan reformssi? Reformasi yang mana? SBY hanya jualan kata-kata, salesman, produsen kata-kata, membohongi kita semua; apa masih pilih lagi SBY-Boediono. Anggaran besar 20%, anggaran militer juga diberikan; kesalahan SBY, dia tidak melakukan pengawasan ketat dan tidak memberi sanksi memecat; jadi bagaimana ditakuti? Negara bangsa besar ini, negara kita semua, masuk jurang, kawan. Pejabat-pejabat itu tidak merancang negara ini memproduksi barang berguna apalagi bernilai ekspor, tetapi pejabat-pejabat itu SBY khususnya hanya menghasilkan dan tiap hari memproduksi kata-kata bohong. Mau masih pilih lagi?
Marisa I Fawzi
June 9, 2009